Cari Blog Ini

Kamis, 29 Desember 2011

BAKTERI TAHAN ASAM (PRAKTIKUM BAKTERIOLOGI)


I.    PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan .
Bakteri yang memiliki ciri-ciri berantai karbon (C) yang panjangnya 8 - 95 dan memiliki dinding sel yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan asam lemak mikolat, lipid yang ada bisa mencapai 60% dari berat dinding sel disebut bakteri tahan asam (BTA). Bakteri ini ada 41 spesies yang telah diakui oleh ICSB (International Committee on Systematic Bacteriology) yang sebagaian besar sudah saprofit dan sebagaian kecil lainnya patogen untuk manusia diantaranya Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium leparae dan lain-lainnya yang dapat menyebabkan infeksi kronik. Golongan saprofit dikenal juga dengan nama atipik (Syahrurachman, 1994).
Bakteri ini membutuhkan bahan tambahan makanan seperti darah, yolk, serum, dan sel yang tebal yang terdiri dari asam lemak mivolet untuk pertumbuhannya. Mycobacterium tuberculose merupakan bakteri gram positif (+), batang sedikit bengkok, panjang atau pendek, tidak berspora, tidak berkapsul, pertumbuhan sangat lambat 2 - 8 minggu, dan suhu optimal 37 - 38oC. Mycobacterium tahan terhadap asam dan alkali dibanding dengan kuman lain sehingga apabila bahan spesimen mengandung kuman lain dapat dibunuh dengan mudah sehingga spesimen menjadi lebih murni (Staff pengajar FKUI, 1994).



B.     Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1.      Mengetahui teknik pewarnaan Bakteri Tahan Asam dari sputum penderita TBC.
2.      Mengetahui tingkat infeksi dari sputum penderita TBC.

















II.  MATERI DAN METODE
A.    Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum Bakteri Tahan Asam (BTA) adalah pipet tetes, pinset, timer, mikroskop, tisu, masker, sarung tangan, object glass, jarum ose dan pembakar spirtus.
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah sputum yang mengandung BTA, akuades, alkohol asam 3%, carbol fuchsin 0,3%, dan metilen blue.

B.     Metode
1.      Preparat dibuat secara langsung kemudian difiksasi, yaitu dengan membersihkan kotoran dengan alkohol pada objek glass lalu sputum diletakkan di atasnya dengan menggunakan jarum ose (dalam keadaan aseptis) setipis mungkin kemudian dilakukan pengeringan, setelah kering kemudian difiksasi.
2.      Objek glass yang kering ditetesi carbol fuchsin 0,3% dan dipanaskan selama 3-5 menit tetapi jangan sampai mendidih.
3.      Cuci dengan aquades mengalir dan dikeringkan.
4.      Tetesi dengan alkohol asam 3%, lalu cuci dengan aquades mengalir dan dikeringkan.
5.      Tetesi dengan methylen blue, didiamkan selama 20 – 30 detik kemudian dicuci dengan menggunakan aquades mengalir, keringkan dan amati dibawah mikroskop.


III.             HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Gambar Kontrol BTA                                           Gambar BTA Hasil Praktikum
                                           



   







B.     Pembahasan
Bakteri tahan asam (BTA) adalah bakteri yang pada pengecatan Ziehl-Neelsen (ZN) tetap mengikat warna pertama, tidak luntur oleh asam dan alkohol, sehingga tidak mampu mengikat warna kedua. Bakteri tersebut ketika diamati dibawah mikroskop tampak berwarna merah dengan warna dasar biru muda. Terdapat lebih dari 50 spesies Mycobacterium, antara lain banyak yang merupakan saprofit (Kusnidar, 1990).
Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri tahan asam, berbentuk batang dan bersifat aerob obligat yang tumbuh lambat dengan waktu generasi 12 jam atau lebih. Mycobacterium tuberculosis menyebabkan tuberculosis dan merupakan patogen yang berbahaya bagi manusia. Mycobacterium leprae menyebabkan lepra. Mycobacterium avium-intracellulare (kompleks M. avian) dan mikobakteria apitik lain yang sering menginfeksi pasien AIDS, adalah patogen ortunistik pada orang-orang dengan fungsi imun yang terganggu lainnya, dan kadang-kadang menyebabkan penyakit pada pasien dengan sistem imun yang normal.
Karakteristik Mycobacterium adalah berbentuk batang lurus atau agak bengkok dengan ukuran 0,2 - 0,4 x 1 - 4 um. Bakteri ini tumbuh lambat, koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan kadang-kadang setelah 6-8 rninggu. Suhu optimum 37°C, tidak tumbuh pada suhu 25°C atau lebih dari 40°C. Medium padat yang biasa dipergunakan adalah Lowenstein-Jensen. PH optimum 6,4- 7,0. Mycobacterium tidak tahan panas, akan mati pada 6°C selama 15-20 menit. Biakan dapat mati jika terkena sinar matahari langsung selama 2 jam. Dalam dahak dapat bertahan 20-30 jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8–10 hari (Arifin, 1990).
Bakteri-bakteri dari genus Mycobacterium dan spesies-spesies tertentu dari genus Nocardia mengandung sejumlah besar zat lipoid (berlemak) di dalam dinding-dinding selnya. Hal ini mengakibatkan dinding sel tersebut relatif tidak permeable terhadap zat-zat warna yang umum sehingga sel-sel bakteri tersebut tidak terwarnai oleh metode-metode pewarna biasa. Kedua genus tersebut mengandung spesies-spesies yang patogenik bagi manusia. Bakteri yang paling dikenal diantaranya adalah M. tuberculosis, penyebab penyakit tuberculosis dan M. leprae penyebab penyakit lepra. Menunjang diagnosis penyakit-penyakit tersebut, bakteri penyebabnya harus dapat diisolasi dari spesimen penderita dan dibuat tampak serta mudah dibedakan dengan bakteri-bakteri yang lain. Akibat sifat dinding selnya yang demikian itu maka untuk memenuhi tujuan tersebut harus digunakan pewarna khusus. Genus Mycobacterium terdiri dari lebih dari 100 spesies, banyak dari mereka adalah patogen bagi manusia dan hewan. Yang paling dikenal manusia dan sapi mikobakteri patogen sebagai anggota Mycobacterium tuberculosis kompleks (MTC). Perlu dicatat bahwa lebih dari 30 juta kasus TB telah telah terdaftar di seluruh dunia pada awal abad ke 21. Terkenal lainnya mikobakteri adalah anggota M. avium complex (MAC termasuk M. avium dan M. a. a. hominissuis), dan atipikal (kondisional patogen) mikobakteri seperti M. kansasii, M. xenopi, dan lain-lain (Hosek et.al., 2006).
Jenis-jenis pewarnaan BTA ada 3 macam, yaitu Ziehl-Neelsen, Tan Thiam Hok (Kinyoun-Gabbett) dan Auramin–phenol fluorochrome. Umumnya pewarnaan Ziehl-Neelsen dan Tan Thiam Hok yang sering digunakan. Hasil yang didapat disamakan dengan penilaian IUATLD (International Union Against Tuberculose Lung Diseases).
Mycobacterium tuberculosis merupakan patogen penting pada manusia. Setiap tahun 3 juta penduduk dunia meninggal akibat kuman ini. M. tuberculosis merupakan kuman intraseluler, termasuk genus Mycobacterium yang berbentuk batang dan merupakan golongan bakteri gram positif, tersusun tunggal. Mycobacterium mempunyai dinding sel dengan sifat-sifat fisik dan kimiawi tertentu yang memungkinkan untuk bertahan hidup dan bermultiplikasi di dalam makrofag. Sifat tumbuhnya lambat, bersifat tahan asam, tahan alkohol, dan aerofilik, hal ini karena lapisan dinding selnya mempunyai sifat- sifat khusus (Farida, 2005).
Sampel yang digunakan adalah Mycobacterium tubercolosis. Mycobacterium tuberculosis, pertama kali ditemukan oleh Robert Koch tahun 1882, termasuk Ordo Actinomycetales Familia Mycobacteriaceae, Genus Mycobacterium dan mempunyai banyak spesies. Penyakit yang ditularkan oleh basil tersebut dikenal dengan sebutan TBC atau Tb-paru. Bakteri TBC masuk ke paru-paru melalui pernafasan (aerosol). Menurut Grange (1996), pewarnaan Ziehl Neelsen terdiri atas larutan carbol fuchsin 0,3% dituang pada seluruh permukaan sediaan, kemudian dipanaskan di atas nyala api sampai keluar asap tetapi tidak sampai mendidih atau kering selama 3-5 menit. Sediaan kemudian dibiarkan dingin lalu kelebihan zat warna dibuang dan dicuci dengan air yang mengalir perlahan. Setelah itu larutan asam alkohol 3% (hydrochloric acid-ethanol) dituang pada sediaan dan dibiarkan 2-4 menit kemudian dicuci dengan air mengalir selama 1-3 menit, kelebihan larutan dibuang. Larutan methylene blue 0,3% dituang sampai menutupi seluruh permukaan, dibiarkan 1 menit lalu larutan dibuang dan dicuci dengan air mengalir. Pewarnaan Ziehl-Neelsen akan menampakkan bakteri tahan asam yang berwarna merah dengan latar berwarna biru.
Fungsi masing-masing reagen pada pewarnaan Ziehl-Neelsen antara lain :
1.      Pewarnaan Carbol Fuchsin 0,3%.
Sebagai pewarna dasar atau pewarna awal pada bakteri tahan asam sehingga memberikan warna merah terhadap bakteri tersebut.
2.      Pewarnaan Alkohol-Asam 3%.
Untuk menghilangkan ataru pencuci warna awal yang diberikan pada bakteri. Kecuali Mycobacterium yang dapat mempertahankan warna awal yang diberikan.
3.      Pewarnaan Metilen Blue.
Untuk memberikan warna biru pada bakteri, jika warna merah yang diberikan oleh carbol fuchsin hilang. Namun pada BTA, warna merah tetap ada.
Hasil praktikum ini menunjukkan bahwa BTA yang didapat adalah negatif. Karena warna yang ditunjukkan bakteri tersebut saat diamati dengan mikroskop adalah biru, yaitu warna yang diberikan oleh metilen blue. Sehingga bisa dipastikan bahwa bakteri ini tidak dapat mempertahankan warna awal yang diberikan. Dan sebenarnya sputum yang digunakan pada praktikum ini adalah yang negatif, namun diibaratkan positif agar para praktikan dapat tetap berhati-hati dalam melakukan praktikum.
Standar yang diberikan oleh IUAD terhadap sputum TBC adalah :
1.      Negatif  : Tidak dijumpai adanya BTA.
2.      Positif    : Ditemukan 1-9 BTA/100 LP.
3.      Positif 1 : Ditemukan 10-90 BTA/100 LP.
4.      Positif 2 : Ditemukan 1-10 BTA/1 LP.
5.      Positif 3 : Ditemukan lebih dari 10 BTA/1 LP.
(Tjandra, 1994)
























                  IV.  KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Pewarnaan Ziehl Neelson atau pewarnaan tahan asam memilahkan kelompok Mycobacterium dan Nocandia dengan bakteri lainnya. Kelompok bakteri ini disebut bakteri tahan asam karena dapat mempertahankan zat warna pertama (carbol fuchsin) sewaktu dicuci dengan larutan alkohol asam. Namun, pada praktikum ini, bakteri dapat terwarnai biru oleh metilen blue.
2.      Hasil yang diperoleh saat praktikum yaitu negatif.


B.     Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya adalah agar dalam praktikum dilakukan dengan hati-hati, tepat waktu, dan penjelasan yang lengkap dari para asisten.













DAFTAR REFERENSI
Arifin, N. 1990. Diagnostik Tuberkulosis Paru Dan Penanggulangannya. Universitas Indonesia. Jakarta.

Farida, J.R. 2006. Studi Perbandingan Aktivitas Fagositosis Makrofag terhadap Mycobacterium Tuberculosis Sensitif dan Resisten Isoniazid. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta.

Grange, J.M. 1996. Mycobacteria and Human Disease, 2nd. Oxford University Press. New York.

Hosek, J., Svastova, V., Moravkova, M., Pavlik, I., and Bartos, M. 2006. Methods of Mycobacterial DNA Isolation From Different Biological Material: A Review. Masaryk University. Brno, Czech Republic.

Kusnidar, 1990. Masalah Penyakit Tuberkulosis Dan Pemberantasannya Di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran , no.63 hal 8-12

Staf pengajar FKUI, 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : Binawa Aksara.

Syahrurachman, Dkk. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Tjandra, Y.A. 1994. Masalah Tuberkulosis Paru Dan Penanggulangannya. Universitas Indonesia. Jakarta.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar