Cari Blog Ini

Kamis, 29 Desember 2011

dominansi apikal


Dominansi Apikal

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II
Acara Praktikum             : Dominasi Apikal
Tujuan                              :  Untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh IAA terhadap pertumbuhan tunas lateral.
Hasil dan Pembahasan    :


A. Hasil
Tabel Hasil Praktikum Dominansi Apikal

ZPT
Konsentrasi
(ppm)
Hari Ke...
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
IAA
0
-
-
-
-
#
#
#
#
#
#
#
#
#
1
-
-
-
-
-
-
#
#
#
#
#
#
#
1,5
-
-
-
-
-
-
#
#
#
#
#
#
#
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
#
#
#
#
IBA
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa terjadi perbedaan waktu tumbuh antara tanaman yang diberi ZPT IAA dengan ZPT IBA. Tanaman yang diberi perlakuan IAA dengan konsentrasi 0 ppm, 1 ppm dan 1,5 ppm tumbuh,sedangkan IAA dengan konsentrasi 2 ppm mengalami pertumbuhan tunas lateral pada hari ke-5 dan 7 pada konsentrasi  ppm mulai tumbuh pada hari ke 6.Tanaman yang diberi 1 ppm mengalami pertumbuhan tunas lateral pada hari ke-7, sedangkan perlakuan IBA dengan konsentrasi 0 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm dan 2 ppm tidak mengalami pertumbuhan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Heddy (1989) bahwa pemberian konsentrasi ZPT yang berbeda-beda dapat mempengaruhi pertumbuhan tunas lateral.
Dominansi apikal merupakan pertumbuhan ujung batang yang sering mendominasi pertumbuhan bagian lain sehingga pembentukan cabang lateral dihambat. Secara alami cabang lateral akan tumbuh pada nodus bagian bawah yang cukup jauh dari ujung batang apabila pertumbuhan batang sudah cukup, hal ini disebabkan karena semakin jauh dari ujung batang pengaruh dominansi apikal semakin berkurang. Berdasarkan kekuatan dominansi apikal, tanaman dibedakan menjadi dua yaitu dominansi apikal yang kuat seperti pada tanaman Kalanchoe dan Bryophyllum dan dominansi apikal yang lemah seperti pada Solanum tubersum dan Solanum lycopersicu. Dominansi apikal dan pembentukan cabang lateral ini dipengaruhi oleh keseimbangan konsentrasi hormon (Khrishnamoorthy, 1981; Taiz and Zeiger, 1998 dan Hopkins, 1995).
Menurut teori ”Nutrien Diversion” dominansi apikal terjadi karena gerakan nutrien ke atas diarahkan ke tunas apical bukan ke tunas lateral, hal ini sebagai akibat adanya produksi auksin di apikal tanaman. Daun dan beberapa tunas yang terbebas dari dominansi apikal akan mulai tumbuh dan menghasilkan auksin. Adanya sitokinin akan memacu pembelahan sel dan produksi auksin sehingga terbebas dari dominansi (Wilkins, 1989).
Pertumbuhan cabang lateral ini dipengaruhi oleh auksin dan sitokinin. Sitokinin akan mengaktifkan pembelahan sel pada meristem tunas lateral (Khrishnamoorthy, 1981). Hal ini juga dikemukakan oleh Lakitan (1996), bahwa hormon sitokinin mempunyai peran yang penting pada pembentukan cabang lateral, karena sitokinin yang terdapat pada ujung akar akan ditransport secara akropetal melalui bagian xilem ke bagian atas tanaman. Hal ini lebih jauh dikemukakan oleh Tekei et al., (2001), bahwa sitokinin akan merangsang pembelahan sel pada tanaman dan sel-sel yang membelah tersebut akan berkembang menjadi tunas, cabang dan daun daun. Setelah dilakukan pemangkasan pada ujung batang, suplai auksin dari tunas apikal tidak terjadi lagi, sehingga kadar auksin dalam ruas dibawahnya berkurang. Sebagai akibatnya terjadi ekpresi IPT (isopentenil transferase) pada tanaman. IPT merupakan enzim yang bertanggung jawab sebagai biokatalisator pada biosintesis sitokinin. Sitokinin yang dihasilkan dari ruas tanaman memasuki tunas lateral dan menyebabkan pertumbuhan tunas lateral (Sato dan Mori, 2001). Peningkatan kadar sitokinin dalam tunas lateral dapat mendorong penyempurnaan hubungan berkas pembuluh antara tunas lateral dan batang tumbuhan sehingga dapat dikatakan bahwa sitokinin menyebabkan terjadinya diferensiasi jaringan pengangkut tunas lateral (Heddy, 1989).
Pertumbuhan memanjang cabang lateral dipengaruhi oleh auksin yang dihasilkan oleh ujung apikal tunas lateral sendiri dan sitokinin yang ditransport dari akar. Siokinin akan merangsang pembelahan sel melalui peningkatan laju sintesis protein (Taiz, 1998), dengan adanya pembelahan sel maka jumlah sel akan menjadi banyak dan dengan adanya auksin sel dapat membesar dan memanjang. Auksin dapat menyebabkan pemanjangan sel dengan cara mempengaruhi plastisitas dinding sel. Auksin akan memacu protein yang ada di membram sel untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ ini akan mengaktifkan enzim sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa. tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis. Setelah pemanjangan ini, sel terus tumbuhan dengan mensintesis kembali material dinding sel dan sitoplasma (Campbell, et al., 2000).
Auksin disintesis pada ujung batang yang lebih bawah. Hal ini menyebabkan terakumulasinya auksin pada ketiak daun dibawahnya yang berakibat inisiasi pembentukan tunas lateral pada ketiak daun terhambat atau terjadi dormansi tunas lateral. Secara basipetal, auksin tersebut ditransportkan ke bagian bawah secara basipetal. Konsentrasi auksin yang cukup tinggi ini akan menghambat aktivitas enzim isopentil transferase yang merupakan katalisator pembentukan sitokonin, sehingga sitokinin dihambat. Keseimbangan sitokinin yang rendah dan auksin yang tinggi ini akan menghambat diferensiasi sel pada nodus untuk membentuk primordial cabang. (Darmati, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi IAA adalah sintesis auksin, pemecahan auksin dan inaktifnya IAA sebagai akibat proses pemecahan molekul. Menurut Salisbury dan Ross (1995), kadar auksin endogen dari aktifitasnya dalam jaringan berhubungan dengan keseimbangan antara intensitas dengan hilangnya auksin karena transfer dan metabolisme. Auksin diproduksi dalam jaringan meristem yang aktif (yaitu tunas, daun muda, dan buah). Transfer berlangsung secara basipetal, yaitu dari ujung ke basal.
Heddy (1989) menyatakan pengaruh fisiologi auksin pada tumbuhan meliputi:
1.        Pemanjangan sel
Pada koleoptil batang, jika terdapat jumlah auksin yang optimal dapat mempengaruhi pemanjangan sel.
2.        Tunas ketiak
IAA yang telah dibentuk di meristem apikal ditransport ke bagiab bawah tumbuhan dapat menghambat pekembangan tunas ketiak. Namun bila meristem apikal dipotong maka akan meningkatkan perkembangan tunas lateral.
3.        Absisi daun
       Daun dapat terpisah dengan batang bila sel pada absisi daun mengalami perubahan kimia dan fisik
4.        Aktifitas kambium
Auksin merangsang pembelahan sel kambium
5.        Tumbuh akar
IAA dapat menghambat pemanjangan akar bila tidak dalam keadaan optimal.



Kesimpulan
      Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
  1. Zat pengatur tumbuh jenis IBA lebih efektif daripada IAA.
  2. Konsentasi zat pengatur tumbuh yang IBA 0 ppm paling efektif dalam mempercepat pertumbuhan tunas lateral.


Daftar Referensi
Campbell, N. A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2000. Biologi. Edisi 5: Jilid 2. Erlangga, Jakarta.

Darmanti,s.2008. Pembentukan Cabang Lateral Jarak Pagar (Jatropha curcas) Setelah Perlakuan Girrdling. BIOMA, Vol.10, No.1, Hal.7-11.

Heddy, S. 1989. Hormon Tumbuhan. Penerbit CV Rajawali, Jakarta.

Hidayat. 2007. Induksi Pertumbuhan Eksplan Endosperm Ulin dengan IAA dan Kinetine. Agritrop, 26 (4) : 147 – 152.

Hopkins, W.G. 1995. Introduction to Plant Physiology. John Willey and Sons Inc, Singapore.

Krishnamoorthy, H.N. 1981. Plant Growth Substances Including Applications In Agriculture. Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited, New Delhi.

Sato, S.S and H. Mori. 2001. Control Outgrowth and Dormancy In Axilary Bud. http://www.plantphysiol.org.

Taiz L. and E. Zieger. 1998. Plant Physiology. Sinauer AssociatesInc., Publisher. Sunderland. Massachusetts.

Tekei, K., H. Sakakibara and T. Sugiyama. 2001. Identification of Genes Encoding Adenylate Isopentenyltrasferase, A Cytokinin Biosynthesis Enzyme In Arabidopsis Thaliana. http: //wwwjbc.org./ogi/content/abstract/ M102130200vl.

Wilkins, M.B. 1989. Fisiologi Tanaman. Bina Aksara, Jakar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar